Belajar Bertani dan Pengurangan Sampah di Ciracas

Puluhan anak yatim dari Rumah Belajar Yatim (RBY) binaan Yayasan Tunas Muda Care (T-Care) mengikuti program edukasi bertani dan pengolahan sampah di Paguyuban Restu Bumi Ciracas, Jakarta Timur.

Kegiatan ini memperingati Hari Pohon Sedunia setiap tanggal 21 November.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Andono Warih mengatakan, sambil bermain mereka belajar dan praktik menanam pohon, menandur padi di sawah, merawat tanaman palawija, dan menanam dengan hidroponik.

“Mereka juga diperkenalkan dengan biokonversi maggot lalat tentara hitam sebagai pengurai sampah organik sekaligus memberi makan ikan dengan maggot,” ungkap Andono, Minggu (22/11).

Andono menjelaskan, Padepokan Restu Bumi yang berlokasi di Komplek Dinas Lingkungan Hidup Ciracas ini merupakan pusat pendidikan lingkungan terpadu yang mengintegrasikan pengurangan sampah di sumber dan pertanian perkotaan (urban farming) dengan menerapkan siklus circular economy.

Dia menambahkan, anak-anak dapat bermain tanpa takut kotor belepotan lumpur. Anak-anak juga dikenalkan dengan perjalanan benih padi menjadi sepiring nasi dengan cara yang sederhana. .

Belajar Bertani dan Pengurangan Sampah

Belajar Bertani dan Pengurangan Sampah

“Anak-anak perlu dikenalkan aktivitas peduli lingkungan dan bijak mengelola sampah sedari kecil maka itu mereka bermain dengan maggot di sini. Belajar di luar kelas semacam ini menjadi cara yang efektif mengenalkan kepedulian terhadap lingkungan. Tentu dengan menerapkan protokol kesehatan,” tandas Andono.

Epidemolog : Tunggu Sampai Akhir Bulan untuk Penerapan New Normal

Dokter Windhu Purnomo Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga Surabaya menyatakan, Attack Rate (AR) Covid-19 di Surabaya meningkat tajam saat masa transisi.

Windhu menjelaskan, menjelang berakhirnya PSBB, AR Kota Surabaya berada di angka 90 per seratus ribu penduduk. Artinya, setiap 100 ribu penduduk ada 90 orang terjangkit Covid-19 di Surabaya.

“Dalam waktu dua minggu pasca PSBB berakhir, attack rate di Surabaya ini naik sebesar 75 persen. Dari 90 ke 150,7 per seratus ribu penduduk,” kata Windhu, Senin (22/6/2020).

Ini cukup mengkhawatirkan, karena pada angka AR 90 per seratus ribu penduduk saja, menurut Windhu, angka itu sudah paling tinggi secara nasional.

“DKI Jakarta memang kasusnya tertinggi di Indonesia. Tetapi AR-nya hanya 70, saat itu. Masih kalah sama Surabaya yang waktu itu 90. Sekarang malah dua kali lipat dalam waktu dua minggu masa transisi,” lanjutnya.

Windhu menjelaskan, AR menjadi salah satu indikator besaran risiko penduduk di suatu wilayah terinfeksi Covid-19. Makin tinggi AR di suatu wilayah, makin tinggi resiko masyarakat di wilayah itu terinfeksi.

“Kalau AR-nya 150,7, artinya setiap 100 ribu penduduk ada 150 orang tertular. Padahal data ini saya prediksi masih seperti gunung es. Di bawah itu masih lebih banyak lagi (yang belum terdeteksi),” ucap Windhu.

Tidak hanya di Kota Surabaya, Sidoarjo dan Gresik pun mengalami kenaikan angka AR walaupun tidak setajam Kota Surabaya. AR di Sidoarjo saat ini 48,7 dan gresik 30,9 per seratus ribu penduduk.

Tantangan Mempertahankan Tingkat Transmisi Penularan

Pada 17 Juni lalu, Tim Epidemiologi di FKM Unair Surabaya mencatat, tingkat transmisi penularan (transmission rate) di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik memang mengalami penurunan di bawah angka 1.

“Itu adalah penurunan transmission rate pertama kalinya. Sebelumnya pada 12-16 Juni masih 1 persis. Lalu sebelum 11 Juni masih zona merah, di atas angka 1,” kata Windhu Purnomo.

Namun, bukan berarti angka itu menandakan sudah saatnya tiga daerah di Surabaya Raya menerapkan tatanan normal baru (new normal) setelah melewati masa transisi sejak berakhirnya PSBB 8 Juni lalu.

Windhu menegaskan, kriteria suatu daerah dinyatakan mampu mengendalikan angka penularan Covid-19 adalah ketika angka transmisi penularan di bawah 1 bisa konsisten selama 14 hari berturut-turut.

Kriteria penentuan kemampuan sebuah daerah mengendalikan transmisi penularan ini ditetapkan baik oleh WHO (organisasi kesehatan dunia) maupun Bappenas. Surabaya Raya belum memenuhi.

“Setelah 14 Hari berturut-turut di bawah satu baru kita siap untuk new normal. Jadi kita harus menunggu setidaknya sampai 1 Juli (terhitung mulai 17 Juni ketika angka transmisi di bawah 1),” kata Windhu.

Sebagaimana diketahui, Senin ini adalah hari terakhir masa transisi menuju new normal di Surabaya Raya. Windhu menyarankan, masa transisi diteruskan sampai awal Juli dengan sanksi lebih tegas.

“Jangan seperti kemarin. Perlu ada pengendalian kepatuhan protokol kesehatan,” katanya. “Kalau sudah New Normal, protokol kesehatan tetap diawasi ketat. Tidak cul-culan,” lanjutnya.

Perlu Ada Ketegasan Sanksi dalam Aturan

Khusus untuk Kota Surabaya, dr Windhu Purnomo Epidemiolog FKM Unair meminta agar Peraturan Wali Kota Surabaya (Perwali) lebih tegas mengatur sanksi bagi pelanggar protokol kesehatan.

Setidaknya seperti yang sudah dilakukan di Sidoarjo dan Gresik dengan denda ataupun sanksi sosial yang tegas. Yang dapat membuat masyarakat berpikir dua kali ketika akan melanggar protokol kesehatan.

Windhu sendiri melihat selama dua pekan masa transisi menuju New Normal di Surabaya Raya masyarakat sudah berperilaku layaknya tidak ada Pandemi Covid-19. Khususnya di Kota Surabaya.

“Masyarakat menganggap masa transisi itu tidak ada. Masa transisi itu seperti kembali normal sebelum ada Covid-19. Di jalan banyak tak pakai masker, kumpul kumpul, protokol kesehatan juga banyak yang tidak dipatuhi,” katanya.

Menurut Windhu ada atau tidaknya PSBB, seharusnya kedisiplinan mematuhi protokol kesehatan tetap menjadi perhatian pemerintah. Salah satunya dengan aturan yang tegas dan ketat.

“Salah satunya kalau di Surabaya ya dengan Peraturan Wali Kota. Hanya saja Perwalinya sama dengan PSBB, sama sekali tidak menggigit dan tidak membuat orang takut bila melanggar atau jera,” ujarnya.

Menurutnya, sudah seharusnya masa transisi ini menjadi momentum untuk betul-betul mempersiapkan New Normal. “Tapi PSBB 1, 2, dan 3 saja tidak efektif, apalagi transisi. Ya sudah, cul-culan,” kata Windhu.

Salah satu alasan kenapa kedisiplinan protokol kesehatan harus diawasi secara tegas dan ketat adalah untuk menekan angka kematian akibat Covid-19 di Surabaya Raya yang menurutnya masih cukup tinggi.

Angka kematian di Surabaya dan Sidoarjo saat ini masih sebesar 7,8 persen dari total jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Sedangkan Gresik, kematiannya mencapai 9,9 persen.

“Artinya setiap 100 orang yang positif Covid-19 di Gresik, 10 diantaranya meninggal dunia. Angka ini jauh di atas angka nasional yaitu 5,6 persen,” lanjutnya.

Angka kematian yang tinggi ini, kata Windhu, dia duga karena faktor rumah sakit di wilayah tersebut tidak bisa lagi menampung pasien Covid-19.

“Covid-19 itu angka kematiannya cuma 4 persen asalkan terawat. Orang yang meninggal itu karena tidak terawat dengan optimal,” ujarnya.

Sumber : Suara Surabaya

Kolaboraksi Tunasmuda Care Melawan COVID-19

Menurut data dari Pemerintah, sampai dengan tanggal 30 Maret 2020, sudah ada 1.414 orang yang terkonfirmasi COVID-19. Rincian dari 1.414 orang tersebut yaitu 1.217 orang dalam perawatan, 75 orang sembuh, dan 122 orang meninggal (Kemenkes RI, 2020). Angka ini terus bertambah tiap harinya.

Berangkat dari permasalahan di atas, Yayasan Tunasmuda Care (t-care) tergerak untuk melakukan gerakan “KolaborAKSI Melawan COVID-19”. Gerakan ini merupakan inisiasi t-care untuk mengajak sesama agar saling membantu dan berkontribusi untuk berbagai pihak yang terkena dampak dari wabah Corona ini.
Kegiatan yang dilakukan antara lain: Pertama, pembagian kebutuhan pokok lewat bantuan dana infaq atau donasi untuk keluarga dhuafa yatim agar selama proses isolasi di rumah kebutuhan mereka terpenuhi. Paket tersebut berupa sembako dan kesehatan yang terdiri dari beras, minyak, telur, mie instan, hand sanitizer, masker, multivitamin, dan cairan disinfektan.

Penyaluran paket ini dilakukan pada tanggal 23 Maret 2020 meliputi wilayah Jakarta Timur dan Depok. Penerima manfaatnya merupakan keluarga dhuafa dan anak yatim binaan dari t-care.
Kedua, t-care membuka peluang untuk sekolah, masjid/musholla, maupun masyarakat umum untuk melawan COVID-19 dengan penyemprotan disinfektan gratis. Dalam kegiatan ini, t-care berkolaborAKSI dengan MUI Kecamatan Ciracas dan DMI Ciracas dalam upaya melawan COVID-19 ini dengan melakukan penyemprotan disinfektan 150 masjid dan musholla di wilayah Ciracas. Penyemprotan disinfektan ini mulai dilakukan dari tanggal 24 Maret 2020 sampai dengan press release ini diterbitkan. Kegiatan ini memancing berbagai pihak untuk saling berkolaborAKSI, salah satunya komunitas Sedekah Jumat Rombongan. Pengumpulkan donasi komunitas tersebut pada minggu ke-4 bulan Maret dialokasikan untuk kegiatan penyemprotan disinfektan ini.

Ketiga, melihat kebutuhan APD yang semakin hari semakin meningkat namun ketersediaan stok APD di lapangan yang kekurangan bahkan sangat jauh dari standar kesehatan WHO. T-care berinisiatif untuk memproduksi APD yang akan langsung disumbangkan ke fasilitas kesehatan (faskes) untuk pejuang tenaga medis yang membutuhkan. Pembuatan APD ini sekaligus mendukung perekonomian penjahit UMKM PIK di Pulo Gadung yang sedang kesulitan order di tengah wabah Corona ini.

Kolaboraksi Tunasmuda Care Melawan COVID-19 di Indonesia

Kolaboraksi Tunasmuda Care Melawan COVID-19 di Indonesia

Bahan yang digunakan untuk pembuatan APD adalah spoundbound 75 gsm dan parasut (sebagaimana hasil konsultasi dengan dokter terkait). Produksi pertama dilakukan pada tanggal 30 Maret 2020 dengan masa pengerjaan 2 – 3 hari yang selanjutnya masuk tahap pendistribusian. Pada pendistribusian pertama rencananya akan diberikan kepada RS Jogja sebanyak 50 paket APD dan 100 paket APD untuk RS Persahabatan, Jakarta.

T-care senantiasa mengajak berbagai pihak untuk saling berkolaborAKSI dalam melawan COVID-19 sebagai bentuk nyata kepedulian dan upaya mendukung pemerintah dalam melakukan pencegahan penyebaran Virus Corona di Indonesia.

Bantuan Korban Covid 19

Bantuan Korban Covid 19

“Terima kasih untuk semua yang telah berkolaborAKSI dalam aksi kebaikan melawan COVID-19 ini. Untuk para individu yang peduli, untuk semua komunitas pelopor kebaikan, untuk semua instansi yang tak terhingga memberikan support yang luar biasa. Semoga apa yang terjadi di Indonesia saat ini menjadi pelajaran berharga dalam kita semua lebih saling peduli dengan lingkungan terkecil kita, yaitu keluarga maupun lingkungan bermasyarakat” ujar Hendra Ikhwan selaku Direktur Tunasmuda Care.

KPK Panggil Jazilul Fawaid untuk Kasus Imam Nahrawi

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (13/1) memanggil politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jazilul Fawaid sebagai saksi dalam penyidikan kasus suap penyaluran pembiayaan skema bantuan pemerintah melalui Kemenpora pada KONI Tahun Anggaran 2018.

Jazilul yang saat ini duduk sebagai Wakil Ketua MPR RI itu dijadwalkan diperiksa untuk tersangka mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi (IMR).

“Yang bersangkutan dijadwalkan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka IMR,” ucap Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin.

Selain Imam, KPK juga telah menetapkan Miftahul Ulum (MIU) asisten pribadinya sebagai tersangka.

KPK pada Rabu (8/1) telah melimpahkan berkas, barang bukti, dan tersangka Ulum ke penuntutan agar dapat segera disidangkan.

Dalam konstruksi kasus tersebut disebut bahwa Imam diduga menerima uang dengan total Rp26,5 miliar.

Uang tersebut diduga merupakan “commitment fee” atas pengurusan proposal hibah yang diajukan oleh pihak KONI kepada Kemenpora Tahun Anggaran 2018, penerimaan terkait Ketua Dewan Pengarah Satlak Prima, dan penerimaan lain yang berhubungan dengan jabatan Imam selaku Menpora.

Baca Juga :  Feri Amsari: Pansel KPK Sudah Menghilangkan Semangat Keterbukaan

Uang tersebut diduga digunakan untuk kepentingan pribadi Menpora dan pihak Iain yang terkait.

Sumber: Antara

Gus Hilman Putra KH Hasyim Muzadi Meninggal Dunia

Putra almarhum KH Hasyim Muzadi, Gus Hilman Wajdi, meninggal dunia pada hari ini. Keluarga besar PBNU turut berduka cita.  “Turut berduka keluarga besar PBNU atas meninggalnya Gus Hilman Wajdi bin KH Hasyim Muzadi,” kata Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud saat dikonfirmasi, Rabu (18/12/2019).

Marsudi mengatakan Hilman meninggal dunia karena kecelakaan. Dikonfirmasi terpisah, Wakil Ketua Umum PBNU H Mochammad Maksum Machfoedz membenarkan Gus Hilman meninggal dunia pada pagi ini. Putra almarhum KH Hasyim Muzadi meninggal dunia karena kecelakaan.

“Iya benar kabar begitu, baru pagi ini,” ujar Maksum. Lokasi kecelakaan Gus Hilman di exit Toll Purwodadi. Saat kecelakaan itu, Gus Hilman dirawat di RS Lawang.

“Kecelakaan di exit tol Purwodadi, pagi subuh masih di RS Lawang dirawat di sana,” jelas dia.

Dia mengaku PBNU kehilangan kader muda terbaik Gus Hilman. Putra Hasyim Muzadi saat ini pengasuh pondok pesantran Mahasiswa Al-Hikam di Depok.

“Kita sungguh kehilangan Salah satu kader muda NU terbaik Gus Hilman. Yang bersangkutan itu melanjutkan misi Bapaknya bahwa huffadz harus plus, belajar juga keilmuan lain-lain, termasuk tahfidzul Qur’an. Ini ke khususkan yang luar biasa,” ujar dia.

Belum diketahui jenazah akan dimakamkan di Depok atau Malang. Tapi PBNU merasa kehilangan Gus Hilman.

“Gagasan pak Hasyim ini di wujud kan dalam pesantren mahasiswanya di al hikam 2 di sekitar kampus UI itu. Tentu kami sangat kehilangan dan tentu kami juga meyakini keberlanjutan dari sistem pendidikan Gagasan KH Hasyim Muzadi itu. Semoga kepergian almarhum adalah perjalanan terbaik menghadap ilahi Robbi. Alfatihah,” sambung dia.

 

Sumber : DetikCom