Peringati Hari Peduli Sampah SPIRIT Gelar Pelatihan Pembuatan Sabun

Bogor, 22 Februari 2021. Bank Sampah SPIRIT Dompet Dhuafa Pendidikan mengadakan kegiatan Pelatihan Pembuatan Sabun Cuci Piring dan Sampo Kendaraan di Aula Masjid Al Insan, Kemang, Bogor. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangkaian peringatan Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada 21 Februari 2021. Pelatihan ini diikuti oleh pengurus Bank Sampah SPIRIT dan karyawan Dompet Dhuafa Pendidikan.

Pelatihan dibuka oleh Ujang Supriatna selaku General Affair Dompet Dhuafa Pendidikan. “Kegiatan pelatihan ini dilakukan karena setiap hari, lembaga kami menggunakan sabun cuci piring untuk kebutuhan pantry asrama dan mencuci kendaraan operasional lembaga. Harapannya dengan pelatihan ini bisa menghemat pengeluaran pembelian sabun dan mengurangi kemasan plastik” tutur Ujang.

Kegiatan yang dimulai pukul 13.30 WIB dipimpin langsung oleh Muhammad Latif selaku ketua Bank Sampah SPIRIT. Diawali dengan penjelasan materi tentang alat dan bahan yang digunakan, fungsi setiap bahan, hingga tata cara pembuatan sabun.

Pembuatan sabun ini terbilang sederhana dan mudah dilakukan oleh siapapun. Bahan-bahan dapat diperoleh di toko-toko kimia. “Membuat sabun ini sangat mudah. Hal paling utama harus ada kemauan untuk membuat. Peluang bisnisnya sangat menjanjikan, karena setiap masyarakat pasti memerlukan sabun untuk keperluan sehari-hari” ucap Latif disela-sela penjelasan materi.

Bahan utama yang digunakan untuk membuat sabun cuci piring yaitu air, garam, amphitol, texafon, pewarna, dan pewangi. Semua bahan dicampur dan diaduk hingga kekentalannya pas. Jika sudah jadi, sabun dikemas ke dalam botol atau jerigen untuk disimpan atau dijual (AH/NR)

Peringati Hari Bela Negara Yatim binaan T.Care Kunjungi Museum

PERINGATI HARI BELA NEGARA:
Yatim binaan T.Care Bermain Games Among Us di Museum Satria Mandala

19 Desember ternyata bukanlah hari biasa. Ditetapkan sebagai Hari Bela Negara untuk mengenang salah satunya sejarah perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia dalam rangka menjaga kemerdekaan Indonesia. Momen ini pula diambil Tunasmuda Care (T.Care) untuk mengedukasi adik-adik yatim binaannya (biasa disebut RBY) untuk mengenal sosok-sosok pejuang tersebut. Hari ini (19/12), T.Care mengadakan kunjungan ke Museum Satria Mandala sebagai salah satu program pendidikan yatim sekaligus dalam rangka meningkatkan rasa ‘Bela Negara’ untuk adik-adik yatimnya.

Adik-adik RBY keliling museum bersama kakak tour guide yang menjelaskan tiap detail sejarah dalam diorama, diberi kesempatan naik ke kendaraan yang digunakan untuk tugas maupun latihan para prajurit, dan diberi hadiah oleh kakak tour guide bagi yang bias menjawab pertanyaan selama proses edukasi tersebut. Kesan menarik pun juga disampaikan oleh kakak tour guide, M. Daruli Alfaris, Mahasiswa UIN Jakarta yang sedang melaksanakan PKL di sana.

“Jadi hari ini bertepatan dengan Hari Bela Negara. Nah kita, kedatangan tamu dari anak-anak dari T.Care. Alhamdulillah banget anak-anak dari T.Care ini sangat antusias banget dan semangat sekali mendatangi museum TNI Satria Mandala yang di dalamnya merupakan banyak cerita, diorama, sejarah perjuangan TNI bersama rakyat dalam mempertahankan serta merebut kemerdekaan Indonesia” ujar beliau setelah kegiatan keliling museum berlangsung.

Menariknya tak hanya kegiatan keliling museum, Tim T.Care menyiapkan games edukasi berjudul “Among Us Bela Negara” untuk adik-adik RBY. Mereka kembali berkeliling museum sembari mencari potongan gambar untuk menjawab detail-detail penting sejarah. Games edukasi menarik perhatian adik-adik RBY, diskusi mengenai letak potongan gambar di museum hingga mengulang kembali edukasi yang diajarkan kakak tour guide.

Hari Bela Negara

Hari Bela Negara

“Seneng banget hari ini. Ternyata keliling museum bisa tak membosankan ya hehe. Sehabis kelilimg museum dari dalam hingga muterin area luar, games Among Us yang bikin makin banyak belajar dengan cara yang seru banget. Keren bapak-bapak hebat yang pertahankan Indonesia. Selamat Hari Bela Negara” celoteh Syifa salah satu adik RBY.

Siswi Asal Gresik Berhasil Membuat Obat Kumur dari Daun Kelor

Proses belajar secara daring atau via online imbas adanya pandemi Covid-19 tidak menghalangi kreativitas serta berinovasi. Seperti yang dilakukan tiga siswi asal SMA Muhammadiyah 10 Gresik GKB (SMAMIO).

Ketiga siswi tersebut, yakni Amalia Dwi Berliyanti (17) dan Auliyah Nabilah Syaban (17). Keduanya siswi kelas XII dan Arina Felisia Rahma (16) kelas XI, mampu berinovasi menciptakan obat kumur alami dari daun kelor.

Dari inovasi tersebut, ketiga siswi itu mampu menorehkan prestasi menjadi juara nasional serta menjadi juara dua tingkat internasional yang diikuti 12 negara.

Menurut Amalia Dwi Berliyanti, ide membuat obat kumur dari daun kelor, berawal di sekitar lingkungan sekolahnya banyak tumbuh daun kelor. Daun tersebut mudah tumbuh dimana-dimana. Sehingga, ada inovasi bagaimana memanfaatkan daun kelor itu.

Setelah dipelajari melalui jurnal dan buku ilmiah, ternyata daun kelor mempunyai aktifitas anti bakteri, dan bagus untuk obat kumur. “Dari inovasi itu, kami bertiga membuat daun kelor sebagai obat kumur. Sebab, secara alami bisa mencegah timbulnya bakteri pada karies gigi,” ujarnya, Senin (21/09/2020).

Obat kumur alamiah ini, lanjut Amalia, berbeda dengan obat kumur yang dijual di pasaran. Bedanya kalau obat kumur di pasaran memakai bahan kimia dan bahaya jika tertelan. Sementara yang terbuat daun kelor aman karena alami. “Kendalanya di tengah pandemi Covid-19, butuh waktu lama ditambah lagi saat melakukan terbatas karena harus mematuhi protokol kesehatan,” tuturnya.

Kepala Sekolah (Kasek) SMA Muhammadiyah 10 Isa Iskandar mengatakan, inovasi yang diciptakan ketiga siswinya ini akan segera ditindaklanjut berkolaborasi dengan berbagai kampus yang selama ini telah melakukan MoU. “Melalui kolaborasi itu, kedepan bagaimana meningkatkan produksi serta menjadi produksi massal,” katanya.

Mengenai metode belajar ditengah pandemi Covid-19 kata Isa Iskandar, dirinya mengajak siswa dan siswinya tetap berkreatifitas dan bagaimana merespon lingkungan di sekitar menjadi penting. “Lewat kreatifitas akhirnya muncul inovasi menciptakan obat kumur alami dari daun kelor,” tandasnya.

Sumber BeritaJatim

LIPI: Indonesia Akan Kelola 12 Kapal Riset

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menargetkan Indonesia akan mengelola 10-12 armada kapal riset yang akan digunakan untuk mengeksplorasi seluruh perairan nasional.

Laksana Tri Handoko Kepala LIPI menjelaskan pengadaan kapal riset nasional ini merupakan salah satu infrastruktur mendasar setelah LIPI diminta menjadi pemimpin untuk Konsorsium Riset Samudra.

“Kita akan mengelola armada kapal riset Nasional kurang lebih 10-12 kapal sehingga kita memiliki kapasitas untuk mengeksplorasi seluruh perairan, termasuk di luar zona ekonomi eksklusif,” kata Laksana Tri Handoko Kepala LIPI di Gedung Mina Bahari Kementerian Kelautan dan Perikanan Jakarta, Selasa (10/9/2019).

Tri Handoko memaparkan bahwa Indonesia memang telah memiliki banyak kapal riset, namun tersebar di sejumlah kementerian/lembaga pemerintah. Selain itu, umumnya kapal riset tersebut memiliki waktu layar yang terlalu pendek. Idealnya, kapal riset berlayar minimal 300 hari dalam setahun.

Selain itu, kapal riset yang ada belum mampu memetakan seluruh perairan Nasional. Hal itu menyebabkan peletakan sensor untuk mitigasi bencana tsunami sulit dilakukan karena data perairan yang belum lengkap.

Ada pun pengadaan kapal pada fase pertama sebanyak dua kapal riset yang ditargetkan mulai tender pada 2020. Pengadaan kapal riset ini memakan biaya sebesar 110 juta dolar AS dengan dua sumber dana, yakni pendanaan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), dan pinjaman luar negeri.

Nantinya, kapal riset ini tidak akan dikelola oleh LIPI, melainkan oleh pihak swasta agar tetap menjaga mutu dan kualitas sesuai standar global, tanpa membebani APBN.

“Kapal Riset Samudra ini akan dikelola secara profesional, bukan lagi oleh LIPI, sehingga tidak membebani APBN untuk biaya operasional dan perawatan, tapi di sisi lain juga menjaga mutu dan kualitas kapal sesuai standar global,” kata dia kepada Antara.

Dalam kesempatan yang sama, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga menggandeng LIPI untuk peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) dan memperkuat riset kelautan.

Nota kesepahaman tersebut mencakup penelitian, pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi; pertukaran dan pemanfaatan data serta informasi; serta pemanfaatan sarana dan prasarana.

Sumber : Suara Surabaya

Klinik Mata Utama Gelar Workshop Phacoemulsifikasi Jilid 3

Klinik Mata Utama (KMU) kembali menggelar workshop phacoemulsifikasi jilid 3, Sabtu Minggu 30/6 – 1 Juli, di Shangrila Hotel, Surabaya.

Phacoemulsifikasi merupakan teknik operasi katarak yang canggih saat ini yang dimiliki KMU.
Yakni operasi katarak tanpa jahitan, tidak terasa sakit, dan hanya butuh waktu 10 menit.

Peserta workshop kali ini dibagi dalam dua level, kelas basic dan kelas intermediate. Tak kurang 77 dokter mata yang antusias menjadi peserta, berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Kegiatan ini merupakan kerja sama Klinik Mata Utama, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Dokter Mata Indonesia (Perdami) Jatim, dan Indonesian Society of Cataract and Refractive Surgery (INASCRS).

Para peserta lebih banyak belajar praktik langsung menggunakan peralatan baru dan canggih. Media belajarnya menggunakan Kitaro, semacam mata palsu.

Menurut Direktur KMU dr Uyik Unari SpM, latar belakang pelaksanaan workshop ini adalah karena masih banyaknya kasus katarak di Indonesia. Di sisi lain, masih banyak dokter mata yang melakukan operasi dengan teknik lama yang juga butuh waktu lebih lama. Mereka belum menguasai teknik phacoemulsifikasi.

Sehingga tak sebanding antara kebutuhan operasi dengan kecepatan layanan dan keahlian. Resikonya banyak kasus katarak yang terlambat ditangani. Padahal bisa beresiko pada kebutaan.

“Selama ini tak sedikit sejawat dokter yang belajarnya harus ke luar negeri. Karenanya dengan menggelar di sini, makin banyak dokter mata yang bisa belajar,” katanya.

Teknik phacoemulsifikasi sendiri sampai sekarang belum diajarkan di kampus-kampus kedokteran di Indonesia. Sehingga workshop ini merupakan terobosan peningkatan kualifikasi dokter mata yang sangat diminati.

“Bagi KMU, ini merupakan pelaksanaan dari visi edukasi. Bahwa KMU terus turut mendorong para dokter mata tak henti belajar dan siap pula mengaajri kolega lainnya. Ilmunya harus dibagi. Sehingga makin banyak dokter yang lebih ahli. Makin banyak juga masyarakat yang bisa dilayani,” kata dokter Uyik yang alumni FK Unair ini.